[Nasehat] Shalatmu Adalah Cerminan Hidupmu

من تعود على تأخير الصلاة. رجل او إمراة ، فليتهيأ للتأخير في كُل أمور حياته

"Barang Siapa Terbiasa Mengakhirkan Shalat, Baik laki-laki maupun perempuan.
Maka bersiaplah ia terlambat dalam segala urusan Kehidupannya !!"

زواج ، وظيفة ، ذُرية ، عافية ، تكملة ، توفيق

"Nikah, Pekerjaan, Keturunan, Kesehatan, Kemapanan, Petunjuk."

قال الحَسنُ البَصري:
إذَا هَانَت عَليكَ صَلاتك فَمَا الذي يَعزُ عَليـكْ ؟

"Hasan Albashri Berkata :
Jika Shalat Saja Sepele Bagimu, Maka adakah Urusan yang Penting Menurutmu ?"

بقدر ماتتعدل صلاتك تتعدل حياتك

"Seperti apa Engkau Merubah Shalat Mu, Seperti itulah Engkau Merubah Hidupmu."

ألم تعلم أن الصلاة اقترنت بالفـلاح

"Tidakkah Engkau Tahu Bahwa Shalat itu Bergandengan dengan KESUKSESAN“.

حي على الصلاة حي على الفلاح

"Marilah Melakukan Shalat, Marilah Meraih KESUKSESAN".

فكيف تطلب من الله التوفيق وأنت لحقه غير مجيب

"Bagaimana Mungkin Engkau Minta KESUKSESAN Kepada ALLAH, Sedangkan Kamu Tidak Tunaikan Hak Nya."

اللهم اجعلنا ممن يقيم الصلاة في وقتها

"Ya ALLAH, Jadikanlah Kami Termasuk Orang yang Mendirikan Shalat Tepat pada Waktu Nya."

Aamiin ya Rabbal alamiin

[Motivasi] 5 Perkara Sederhana Tentang Hidup

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah,maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan.

5. Jangan menunggu orang memahami kamu, baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

Adab di Madrasah Asy Syafi’i



Imam besar Asy Syafi’i rahimahullah melahirkan orang-orang besar.
Guru besar yang tak hanya mentransfer ilmu tetapi penuh cinta.
Murid-murid yang tak hanya belajar ilmu tapi penuh beradab.

Inilah bukti keberhasilan mentransfer ilmu Asy Syafi’i.
Asy Syafi’i sang guru pernah berkata tentang salah satu muridnya, Yunus bin Abdil A’la.

Asy Syafi’i suatu hari berkata kepada Amr bin Khalid: "Wahai Abul Hasan, lihatlah pintu pertama di Masjid Jami’ ini."
Amr pun melihatnya. Asy Syafi’i berkata: “Tidak satu pun orang yang memasuki pintu ini yang melebihi kecerdasan Yunus bin Abdil A’la.”

Dan inilah bukti kekaguman murid akan ilmu gurunya.

Yunus bin Abdil A’la sang murid pernah berkata tentang gurunya, Asy Syafi’i:
“Tak pernah aku melihat orang yang lebih berakal melebihi Syafi’i. Andai umat ini dikumpulkan, maka akalnya cukup untuk mereka semua.”

Tapi...

Dikisahkan, suatu hari guru dan murid itu berselisih pendapat cukup serius di majlis.

Yunus marah, meninggalkan majlis  dan pulang.

Di malam hari, pintunya diketuk.

Yunus bertanya: "Siapa di pintu?"

Pengetuk: "Muhammad bin Idris."

Yunus berpikir mencoba menghadirkan seluruh orang yang namanya Muhammad bin Idris dan ternyata hanya Asy Syafi’i.

Begitu pintu dibuka, Yunus terkejut karena benar yang di depan pintu adalah gurunya.

Asy Syafi’i berkata: "Wahai Yunus, kita ini telah bersatu dalam ratusan masalah, apakah kita akan pecah hanya karena satu masalah...???!"

(Allahu Akbar...!!! indahnya ilmu berhias akhlak, berbalut ukhuwah.

Ilmu, adab, tawadhu’, cinta, hormat, kelapangan hati, lisan indah, cerdas, paham prioritas...

Maafkan kami, guru....

رحمك الله أيها الشافعي وأدخلك فسيح جنته)

#sapapagiBA

[Do'a] Do'a Saat Sedang Ditimpa Masalah

 Kita adalah hamba Allah yang lemah. Diberikan kesempatan untuk merasakan nikmat hidup di dunia yang hina dan fana. Tidak ada yang kekal melainkan Dia. Dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak ada manusia yang terlepas dari beban hidup. Masalah yang dihadapi pun datang silih berganti. Ada yang mampu menghadapinya dengan sabar, ada yang terus mengeluh dan menyalahkan keadaan, dan ada juga yang tidak mau tau dengan masalah yang dihadapi yaitu dengan cara mengakhiri hidup sendiri lantaran masalah yang datang bertubi-tubi. Namun, harus kita sadari bahwa Allah Maha Adil. Allah tidak pernah zhalim terhadap hambaNya. Dibalik lemahnya manusia, Allah juga titipkan kekuatan dan daya upaya. Yang dengannya manusia berusaha dan berikhtiar untuk menyelesaikan masalahnya semampu mereka.

Bagi mereka yang faham betul makna masalah hidup. Mungkin akan sangat gampang bagi mereka untuk menyelesaikannya. Disaat mereka sedang menghadapi masalah, mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya diingatkan oleh Allah untuk kembali kepadaNya. Tidak sibuk dengan urusan dunianya, tidak sibuk dengan pekerjaannya, tidak sibuk dengan anak, istri dan sanak saudaranya. Allah Maha Adil, Allah tidak zhalim kepada hambaNya. Manusia lah yang menzhalimi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba Allah yang lemah, yang selalu mengharapkan pertolongan dariNya. Saat sedang ditimpa masalah, daripada sibuk menyalahkan keadaan, daripada sibuk menyalahkan orang lain. Ada sebuah do'a yang Nabi ajarkan kepada ummatnya yang pada sat saat ditimpa masalah.

    اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ ،
Ya Allah pemilik segala kerajaan.
 تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ ، وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ ،
Kamu berikan kerajaan kepada sesiapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan daripada siapapun yang Engkau kehendaki

وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ،

Engkau agungkan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki.

 بِيَدِكَ الْخَيْرُ ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ،
Hanya di tangan-Mu segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu Maha Berkuasa

 تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ ، وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ،
Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam

 وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ ، وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ،
Dan Engkau keluarkan yang hidup daripada yang mati  dan Engkau keluarkan yang mati daripada yang hidup

 وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ،
 Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki yang tidak terhingga

 رَحْمَنُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيمُهُمَا ،
 (Wahai )Tuhan bersifat Rahman di dunia dan Akhirat serta bersifat Rahim di kedua-duanya

 تُعْطِي مِنْهُمَا مَنْ تَشَاءُ ، وَتَمْنَعُ مَنْ تَشَاءُ ،
Engkau berikan kepada siapa yang Engkau kehendaki daripada kedua-duanya (Dunia dan Akhirat) dan Engkau Tahan siapa yang Engkau kehendaki daripada kedua-duanya

 ارْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ  . 
Kasihanilah daku dengan rahmat kasihan belas yang menjadikan diriku tidak berhajat kepada kasihan belas selain daripada-Mu

(Hadis Riwayat Tabrani)

[Nasehat] 8 Mutiara Hatim Al A’sham

Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim al-A’sham, “Berapa lama kamu telah belajar kepadaku?” Hatim menjawab: “Sudah selama 33 tahun.” Syaqiq bertanya lagi, “Apa yang kamu pelajari dariku selama itu?” Hatim menjawab, “Ada delapan perkara.” Syaqiq berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku habiskan umurku bersamamu selama itu dan kamu tidak belajar kecuali delapan perkara?!” Hatim menjawab, “Guru, aku tidak belajar selainnya. Sungguh aku tidak bohong.” Syaqiq kemudian berkata lagi, “Coba jelaskan kepadaku apa yang sudah kamu pelajari.” 
Murid (Hatim) menjawab:
Pertama, 

 “Ketika aku memperhatikan makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, tetapi ketika dia sudah sampai di kuburnya, kekasihnya justru berpaling darinya. Ia pun merasa kecewa karena kekasihnya tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan amal kebaikan yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka semua amal kebaikan akan ikut bersamaku.”

Kedua, 

“Saya memperhatikan (merenungkan) firman Allah:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (٤٠)فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (٤١)
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An-Nazi’at: 40-41)
Maka saya berusaha keras untuk meneguhkan diri dalam menundukkan hawa nafsu, hingga nafsu saya mampu tegar atau tenang (tidak goyah) diatas ketaatan kepada Allah.”

Ketiga, 

“Saya memperhatikan manusia, dan saya amati masing-masing memiliki sesuatu yang berharga, yang dia menjaganya agar barang tersebut tidak hilang. Kemudian saya membaca firman Allah:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (Qs. An-Nahl: 96)
Oleh karena itu, apabila setiap aku memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, segera saja aku serahkan kepada Allah, agar milikku terjaga bersama-Nya dan tidak hilang (agar kekal di sisi Allah).”

Keempat, 

“Saya memperhatikan manusia dan saya ketahui masing-masing mereka membanggakan hartanya, pangkatnya (kedudukannya) dan nasabnya (keturunannya). Kemudian aku memperhatikan firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Qs. Al-Hujurat: 13)
Maka aku berbuat dalam koridor takwa (aku kerjakan konsekuensi takwa), hingga menjadikan aku di sisi Allah, sebagai orang yang mulia.”

Kelima, 
 
“Saya memperhatikan manusia dan (saya tahu) mereka saling mencela dan mengumpat antara satu dan lainnya. Saya tahu masalah utamanya di sini adalah sifat iri hati (dengki). Maka saya kemudian memperhatikan firman Allah:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (Qs. Az-Zukhruf: 32)
Maka saya kemudian meninggalkan sifat iri hati dan menghindar dari banyak orang, karena saya tahu bahwa pembagian rejeki itu benar-benar dari Allah, yang menjadikanku tidak patut memusuhi dan iri kepada orang lain.”

Keenam, 

“Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).” (Qs. Fathir: 6)
Maka aku tinggalkan permusuhan diantara manusia, karena itu setan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan setan adalah musuhku.”

Ketujuh, 

“Saya memperhatikan manusia, maka saya melihat masing-masing diantara mereka memasrahkan jiwanya dan menghinakan diri mereka sendiri dalam mencari rezeki. Bahkan ada diantara mereka yang berani melihat kepada firman Allah:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rizkinya.” (Qs. Hud: 11)
Saya kemudian menyadari bahwa saya adalah salah satu dari makhluk melata, sehingga Allah pasti akan menanggung rezekinya. Maka saya menyibukkan diri dengan apa yang menjadi hak Allah dan saya tinggalkan hak saya atas Allah. (Saya meninggalkan apa-apa yang tidak dibagikan kepadaku).”

Kedelapan, 

“Saya memperhatikan manusia, maka saya lihat masing-masing dari mereka menyerahkan diri (bertawakkal) kepada sesama makhluk (orang ataupun barang). Ada yang menyandarkan hidupnya kepada sawah ladangnya, sebagian karena perniagaannya, sebagian karena hasil karya produksinya, sebagian lain karena kesehatan badannya dan simpanannya/tabungannya. Maka saya melihat kepada firman Allah:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)-nya.”(Ath-Thalaaq: 3)
Maka saya kemudian menyerahkan diri dan mempercayakan semuanya kepada Allah karena Dia akan mencukupi segala keperluanku."

Mendengar pernyataan-pernyataan Hatim, sang guru yaitu Imam Syaqiq al-Balkhi mendo’akannya, “Semoga Allah memberi berkah kepadamu…!”

***